Harga Minyak Dunia Turun Tajam, Pasokan Global Diprediksi Melimpah

Harga Minyak Dunia Turun Tajam

Kekhawatiran Kelebihan Pasokan Tekan Harga Global

bermudamall.com – Harga minyak dunia jatuh ke posisi terendah dalam lima bulan terakhir karena kekhawatiran kelebihan pasokan serta ketegangan dagang global. Penurunan harga dipicu oleh meningkatnya stok minyak mentah global dan pelemahan permintaan energi akibat perlambatan ekonomi dunia.


Harga minyak mentah Brent turun 28 sen menjadi USD 61,01 per barel, sementara WTI melemah 2 sen ke USD 57,52. Kedua acuan harga minyak tersebut mencapai titik terendah sejak awal Mei 2025 setelah sempat turun lebih dari satu dolar. Pasar menunjukkan pola contango, yaitu harga jangka pendek lebih rendah dibandingkan jangka panjang karena kekhawatiran pasokan berlebih.

Baca Juga : “Wall Street Waspada, Kredit Macet Bank Regional Mengancam

Banjir Pasokan Jadi Ancaman Utama Menjelang 2026

Analis energi John Kilduff menyebut kekhawatiran kelebihan pasokan semakin nyata dan dapat menekan harga minyak global secara berkelanjutan. Menurutnya, peningkatan penyimpanan minyak di kapal Mengambang dan tangki darat menandakan pasar mulai kelebihan suplai.


“Penyimpanan minyak dunia kemungkinan penuh menjelang 2026,” ujar Kilduff, memperingatkan dampak negatif bagi produsen minyak utama. Harga minyak Brent dan WTI telah mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut karena sentimen surplus pasokan global terus menguat.


Laporan Badan Energi Internasional memperkirakan pasokan minyak akan tetap berlebih hingga 2026 karena peningkatan produksi Amerika Serikat. OPEC+ mungkin kembali mempertimbangkan pemangkasan produksi untuk menstabilkan pasar jika harga menembus di bawah USD 60 per barel.

Ketegangan Dagang AS–China Perburuk Prospek Permintaan Energi

Ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China kembali meningkat setelah kedua negara mengenakan biaya tambahan di pelabuhan. Kebijakan tersebut menurunkan aktivitas ekspor-impor dan menekan permintaan energi global yang sudah melambat sejak pertengahan tahun.


Organisasi Perdagangan Dunia memperingatkan konflik ekonomi dua negara ini dapat memangkas output global hingga tujuh persen mendatang. China dan Amerika Serikat merupakan konsumen minyak terbesar dunia, sehingga ketegangan keduanya langsung memengaruhi pasar energi global.


Pasar juga mencermati potensi gangguan pasokan minyak dari Rusia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan sanksi ekonomi. Jumlah rig minyak Amerika Serikat meningkat untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, menandakan potensi kenaikan produksi. Data Reuters memperkirakan stok minyak mentah Amerika Serikat naik signifikan, memperkuat kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan global.

Pandangan ke Depan: Risiko Harga Masih Cenderung Turun

Kombinasi kelebihan pasokan, produksi meningkat, dan ketegangan perdagangan membuat tekanan terhadap harga minyak kemungkinan bertahan hingga 2026. Lembaga riset energi memperkirakan harga minyak Brent bisa turun di bawah USD 60 per barel dalam beberapa bulan mendatang.


Pemulihan harga hanya mungkin terjadi bila ketegangan dagang mereda dan permintaan manufaktur global mulai meningkat kembali. Faktor geopolitik, fluktuasi dolar Amerika Serikat, dan kebijakan produksi OPEC+ akan menjadi penentu utama arah harga minyak.


Analis memperingatkan volatilitas harga dapat meningkat tajam karena ketidakpastian ekonomi dan kebijakan global yang terus berubah cepat. Secara keseluruhan, pasar energi global menghadapi fase baru penuh ketidakpastian dengan tantangan pasokan dan permintaan yang sangat kompleks.

Baca Juga : “Kredit Macet AS Guncang Eropa, Saham Bank Turun Tajam

More Articles & Posts