Pergeseran Tren Perjalanan di Libur Panjang Akhir Tahun
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat adanya pergeseran signifikan dalam pola perjalanan masyarakat selama masa liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Tren menunjukkan peningkatan tajam pada minat perjalanan ke luar negeri, sementara penerbangan domestik justru mengalami penurunan dalam jumlah penumpang.
Penurunan Penumpang Domestik di Tengah Naiknya Jumlah Penerbangan
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, Lukman F Laisa, menjelaskan bahwa selama periode 18 hingga 30 Desember 2025, jumlah penumpang penerbangan domestik menurun 2,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi meskipun jumlah penerbangan domestik justru naik 2,01 persen pada periode yang sama.
“Jadi pesawatnya ada, tapi jumlah penumpangnya yang turun. Itu kondisi yang domestik,” ujar Lukman dalam konferensi pers akhir tahun yang digelar pada Rabu (31/12/2025).
Baca Juga : “7 Bank Bangkrut di 2025, Ini Alasan Utama di Baliknya“
Penerbangan Internasional Tumbuh, Dorong Lonjakan Penumpang
Sebaliknya, pergerakan penumpang di penerbangan internasional menunjukkan tren pertumbuhan positif. Hingga 30 Desember 2025, tercatat peningkatan penumpang harian internasional sebesar 4 persen, meski jumlah penerbangan relatif stagnan. Secara kumulatif, penerbangan internasional mengalami kenaikan 7,2 persen dengan pertumbuhan jumlah penumpang mencapai 5 persen sejak 18 Desember 2025.
Peningkatan ini mengindikasikan tingginya minat masyarakat Indonesia untuk berlibur ke luar negeri selama periode Nataru, didukung oleh destinasi populer seperti Singapura, Jepang, dan Australia yang banyak dipilih sebagai tujuan wisata akhir tahun.
Bandara Bali Jadi Contoh Lonjakan Penumpang Internasional
Salah satu bandara yang mencerminkan tren ini adalah Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Pada puncak arus liburan 28 Desember 2025, tercatat sebanyak 82.445 penumpang melintas melalui bandara tersebut. Angka ini naik 12 persen dibandingkan hari yang sama tahun lalu. Menurut Kemenhub, lonjakan ini terutama didorong oleh penumpang dari dan menuju penerbangan internasional.
Sementara itu, penumpang domestik di Bandara Ngurah Rai tidak menunjukkan lonjakan signifikan. Hal ini memperkuat tren nasional bahwa minat terhadap perjalanan lokal cenderung stagnan atau bahkan menurun selama musim libur Nataru.
Ketersediaan Kursi Masih Mencukupi, Load Factor 70 Persen
Dari sisi kapasitas, pemerintah memastikan bahwa maskapai masih menyediakan kursi yang mencukupi. Pada periode 18 hingga 30 Desember 2025, tingkat keterisian kursi atau load factor tercatat sebesar 70,59 persen. Angka ini menunjukkan masih terdapat sekitar 21.180 kursi yang tidak terpakai di seluruh penerbangan nasional.
Fakta ini menandakan adanya mismatch antara pasokan kursi dengan permintaan penumpang di sektor domestik. Meskipun maskapai telah meningkatkan frekuensi penerbangan, kenyataannya jumlah penumpang tidak sejalan dengan kapasitas yang tersedia.
Realisasi Extra Flight Didominasi Rute Domestik
Dalam upaya mengantisipasi lonjakan arus perjalanan selama Nataru, Kemenhub sebelumnya telah menyetujui penambahan hingga 1.120 penerbangan tambahan (extra flight). Namun hingga 30 Desember 2025, hanya 799 extra flight atau 71,51 persen yang terealisasi, terdiri dari 788 penerbangan domestik dan hanya 11 penerbangan internasional.
Sementara itu, sebanyak 294 extra flight telah digunakan dari total 329 rencana awal. Data ini menunjukkan bahwa meskipun ada rencana ekspansi layanan, sebagian besar realisasi penerbangan tambahan masih menyasar pasar domestik yang justru mengalami penurunan permintaan.
Penerbangan Nasional Tetap Tumbuh Tipis Secara Keseluruhan
Meskipun sektor domestik melemah, Lukman F Laisa menegaskan bahwa secara agregat, industri penerbangan nasional masih mencatatkan pertumbuhan. Hingga 30 Desember 2025, total penerbangan meningkat 0,9 persen, sementara jumlah penumpang tumbuh 0,7 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini disokong oleh peningkatan signifikan dari sektor internasional, yang berhasil menyeimbangkan performa industri secara umum di tengah tantangan penurunan minat terhadap perjalanan dalam negeri.
Faktor Pendorong Pilihan Liburan ke Luar Negeri
Peningkatan minat terhadap perjalanan luar negeri selama Nataru 2025/2026 dipengaruhi oleh berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah ketersediaan tiket promo, kemudahan visa ke negara tertentu, peningkatan nilai tukar rupiah, serta kebijakan maskapai asing yang menawarkan layanan lebih kompetitif.
Tidak hanya itu, sebagian masyarakat juga mulai melihat perjalanan ke luar negeri sebagai alternatif yang lebih “worth it” dibandingkan destinasi lokal yang dianggap memiliki harga yang kurang kompetitif dengan fasilitas terbatas selama musim liburan puncak.
Tantangan dan Peluang Bagi Maskapai Domestik
Tren lesunya penerbangan domestik memberikan sinyal penting bagi maskapai nasional dan pengelola bandara. Ke depan, perlu dilakukan evaluasi terhadap strategi tarif, pelayanan, dan promosi destinasi domestik agar bisa kembali menarik minat pelancong lokal.
Kolaborasi antara Kemenhub, Kementerian Pariwisata, dan operator maskapai menjadi penting untuk membangun kembali kepercayaan dan minat masyarakat terhadap perjalanan dalam negeri, termasuk promosi wisata daerah yang lebih terintegrasi.
Penutup: Proyeksi dan Arah Perbaikan Transportasi Udara Nasional
Periode Nataru 2025/2026 memberikan gambaran nyata mengenai pergeseran pola konsumsi transportasi udara oleh masyarakat Indonesia. Tren meningkatnya penerbangan internasional menandai tantangan baru bagi sektor domestik untuk berinovasi dan menyesuaikan diri.
Pemerintah dan industri penerbangan diharapkan mampu merespons perubahan ini dengan kebijakan dan strategi yang adaptif, sehingga sektor penerbangan domestik tidak tertinggal dan tetap menjadi tulang punggung konektivitas nasional di masa mendatang.
Baca Juga : “7 Maskapai Lokal Indonesia yang Menawarkan Layanan dan Harga Terbaik“




