Langkah Strategis Pemerintah untuk Kurangi Ketergantungan Impor
Indonesia terus mendorong kemandirian industri dalam negeri, khususnya di sektor maritim. Salah satu upaya teranyar adalah menekan ketergantungan terhadap impor komponen kapal yang saat ini masih mencapai lebih dari 80%. Pemerintah melakukan terobosan melalui program sertifikasi komponen kapal nasional yang dinilai menjadi tonggak penting memperkuat daya saing industri lokal.
Sertifikasi Produk Jadi Senjata Hadapi Persaingan Global
PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI), bersama lima perusahaan anggota Perkumpulan Industri Komponen Kapal Indonesia (PIKKI) dan Kementerian Perindustrian, telah melaksanakan proses sertifikasi terhadap sejumlah komponen kapal buatan lokal. Kolaborasi ini menandai kesiapan sektor industri maritim Indonesia untuk masuk pasar global dengan standar mutu yang teruji.
Sertifikasi ini tidak hanya berfungsi sebagai formalitas administratif. Menurut Direktur Operasi Bisnis Klasifikasi BKI, Arief Budi Permana, proses ini menjadi bukti teknis dan komitmen mutu industri nasional. “Program ini adalah simbol pengakuan atas pencapaian teknis serta konsistensi terhadap kualitas,” tegasnya.
Baca Juga : “RUPSLB Bank Mandiri Tunjuk Komisaris Baru, Ini Daftarnya“
Lima Komponen Kapal Nasional Resmi Bersertifikat
Melalui sinergi ini, terdapat lima komponen kapal yang telah mengantongi sertifikat resmi dari BKI:
- Marine Cable HF90 insulated power, lighting, and control cables – produksi PT PCM Kabel Indonesia, Tangerang (sertifikat type approval).
- Tali Polypropylene Monofilament – produksi PT Indorope Fibertama Perkasa, Surabaya (type approval).
- HLM Anchor Windlass – produksi PT Serata Makmur Raya, Surabaya (type approval).
- Weathertight Door – produksi CV Setia Kawan Indonesia, Tegal (product approval).
- Dynamic Descales – produksi PT Sigma Artha Bahari, Bekasi (commercial certificate).
Kelima komponen ini menunjukkan bahwa industri lokal mampu memenuhi standar teknis internasional, membuka peluang lebih besar untuk substitusi impor secara bertahap.
Dukungan BKI terhadap Kemandirian Maritim Nasional
Dalam pernyataannya, Arief Budi Permana menekankan pentingnya peran maritim dalam visi Indonesia Emas 2045. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, laut adalah penghubung vital sekaligus motor penggerak perekonomian. Oleh karena itu, BKI berkomitmen mendukung pembangunan industri komponen kapal melalui pendekatan berkelanjutan.
“Peran kami bukan hanya di ranah regulasi atau inspeksi. Kami juga aktif membangun kompetensi SDM agar siap menghadapi tantangan global,” ujar Arief. Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi elemen penting dalam transformasi industri ini.
Strategi Substitusi Impor: Dari Sertifikasi ke Produksi Massal
Sertifikasi hanyalah salah satu tahap awal dalam strategi jangka panjang menekan impor komponen kapal. Tujuan utamanya adalah memperluas basis produksi nasional dengan standar mutu tinggi agar dapat bersaing di pasar domestik maupun global. Hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di sektor perkapalan.
Langkah ini juga akan mengurangi ketergantungan pada komponen dari negara seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan yang selama ini mendominasi pasokan. Selain efisiensi biaya, substitusi impor akan memperkuat daya tahan rantai pasok nasional terhadap gangguan global.
Kementerian Perindustrian Dorong Hilirisasi Maritim
Kementerian Perindustrian sebagai mitra strategis turut mendorong hilirisasi industri maritim. Dengan menjadikan komponen kapal sebagai bagian dari program prioritas substitusi impor, pemerintah ingin menciptakan rantai industri perkapalan yang lebih kuat dan berdaya saing tinggi.
Sebelumnya, sektor maritim masuk dalam peta jalan Making Indonesia 4.0 dan menjadi salah satu andalan ekspor non-migas. Penguatan industri komponen merupakan tahap krusial dalam mendorong multiplier effect ke sektor terkait, termasuk galangan kapal, logistik laut, dan manufaktur baja ringan.
Tantangan dan Arah Pengembangan ke Depan
Meski sudah ada lima komponen bersertifikat, masih banyak tantangan yang dihadapi industri nasional. Mulai dari keterbatasan teknologi produksi, rendahnya kapasitas manufaktur, hingga persaingan harga dengan produk impor. Namun, dengan dukungan sertifikasi, industri memiliki peluang untuk mendapatkan kepercayaan pasar dan menarik lebih banyak investasi.
Langkah berikutnya adalah mendorong percepatan produksi massal dan memastikan rantai distribusi berjalan efisien. Program insentif bagi industri yang memenuhi standar nasional juga akan menjadi faktor pendorong agar jumlah komponen kapal buatan lokal terus bertambah.
Kesimpulan: Momentum Baru untuk Industri Komponen Kapal
Upaya menekan impor komponen kapal hingga 80% bukan sekadar target statistik, melainkan strategi besar membangun kemandirian industri nasional. Dengan sinergi antara BKI, PIKKI, Kementerian Perindustrian, dan pelaku usaha, Indonesia tengah membuka jalan menuju masa depan maritim yang lebih tangguh.
Sertifikasi komponen kapal adalah bukti nyata bahwa industri lokal mampu memenuhi standar internasional. Dengan dukungan regulasi, kompetensi SDM, dan investasi berkelanjutan, sektor ini akan menjadi pilar penting dalam mewujudkan Indonesia sebagai kekuatan maritim dunia menjelang 2045.
Baca Juga : “Industri Perkapalan 2025: Mengelola Risiko, Menggapai Peluang“




