Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memberikan respons tegas terhadap opini sejumlah ekonom dan analis yang memprediksi Indonesia tengah menuju jurang resesi. Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jumat (13/3/2026), ia menyatakan bahwa narasi negatif tersebut tidak berdasar dan kontradiktif dengan indikator ekonomi terkini. Purbaya menegaskan bahwa fondasi ekonomi nasional justru menunjukkan ketangguhan signifikan di tengah dinamika global yang tidak menentu.
Baca Juga : “Elkan Baggott Dipanggil Timnas Indonesia di FIFA Series 2026“
Sektor Manufaktur dan Konsumsi Rumah Tangga Tetap Solid
Purbaya memaparkan bukti kekuatan ekonomi dari sisi produksi atau supply yang terus mengalami ekspansi. Salah satu indikator utamanya adalah Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur per Februari 2026 yang bertahan di level ekspansif. Angka ini mencerminkan bahwa aktivitas industri dan pengadaan barang modal oleh perusahaan masih tumbuh stabil dalam beberapa tahun terakhir.
Selain sisi produksi, sektor permintaan atau konsumsi masyarakat juga menunjukkan tren positif yang konsisten. Data Mandiri Spending Index mengonfirmasi bahwa belanja masyarakat berada pada level tinggi dan terus meningkat. Indikator pendukung lainnya adalah pertumbuhan penjualan mobil pada Februari yang mencatatkan kenaikan dua digit secara tahunan (year-on-year).
“Ekonomi-ekonomi yang agak aneh itu bilang kita sudah resesi tinggal hancurnya. Analis di TikTok atau YouTube yang bilang data hancur, itu sama sekali tidak melihat data secara utuh,” ujar Purbaya menyindir para pemberi opini di media sosial.
Kepercayaan Investor dan Stabilitas Pasar Keuangan Nasional
Purbaya juga menyoroti aspek psikologis pasar yang tercermin melalui Indeks Keyakinan Konsumen (IKK). Tingginya angka IKK membuktikan bahwa masyarakat masih optimis terhadap daya beli dan kondisi ekonomi masa depan. Optimisme ini menjadi mesin penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap berada di jalur positif.
Di pasar modal, stabilitas keuangan Indonesia terlihat dari terjaganya spread obligasi pemerintah terhadap US Treasury. Hingga awal tahun ini, aliran modal asing (inflow) masih terus mengalir ke pasar keuangan domestik. Fenomena ini menandakan bahwa investor global tetap menaruh kepercayaan besar pada fundamental ekonomi Indonesia dibandingkan negara berkembang lainnya.
Sebagai penutup, pemerintah berkomitmen untuk memperkuat koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Langkah sinergis ini bertujuan menjaga momentum pertumbuhan serta mengantisipasi dampak volatilitas ekonomi global. Dengan data yang komprehensif, narasi resesi dianggap sebagai opini prematur yang mengabaikan fakta-fakta pertumbuhan riil di lapangan.
Baca Juga : “Sentil Ekonom yang Bilang RI Resesi, Purbaya: Ekonomi RI Cukup Stabil“




