Kebutuhan Energi Primer Terus Naik, PLN EPI Ambil Peran Sentral
Kebutuhan energi primer untuk pembangkit listrik nasional terus menunjukkan tren peningkatan. Kondisi ini sejalan dengan pertumbuhan konsumsi listrik, ekspansi industri, serta percepatan elektrifikasi di berbagai sektor. Dalam konteks tersebut, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan posisinya sebagai satu-satunya pintu pengadaan energi primer bagi seluruh PLN Group.
Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menyampaikan bahwa permintaan energi primer meningkat pesat dalam tiga tahun terakhir. Untuk menjaga keandalan pasokan sekaligus efisiensi biaya, PLN EPI membuka peluang kerja sama bagi pelaku usaha dan investor. Skema kolaborasi ini mencakup pengembangan fasilitas LNG, CNG, bioenergi, hingga optimalisasi fasilitas penyimpanan BBM yang belum termanfaatkan penuh.
Baca Juga : “Timnas Indonesia U-22 Gagal Lolos Semifinal SEA Games 2025, Rekor 14 Tahun Terhenti“
Batu Bara dan Gas Masih Menjadi Tulang Punggung
Dalam beberapa tahun terakhir, penyediaan batu bara untuk pembangkit menunjukkan lonjakan signifikan. Pasokan yang semula sekitar 74 juta ton pada 2023 meningkat menjadi hampir 100 juta ton pada tahun berjalan. Kenaikan ini mencerminkan peran batu bara yang masih dominan dalam bauran energi pembangkitan nasional.
Di sisi gas, PLN EPI mengelola sekitar 1,2 miliar standar kaki kubik per hari pada 2023. Volume ini berpotensi meningkat menjadi 1,4 miliar standar kaki kubik per hari pada tahun depan, termasuk pengelolaan lebih dari 100 kargo LNG. Pertumbuhan tersebut didorong kebutuhan pembangkit berbasis gas yang dinilai lebih fleksibel dan efisien dibandingkan minyak.
“Gas akan tumbuh rata-rata 4 hingga 6 persen per tahun. Semua energi primer di sektor ketenagalistrikan meningkat, kecuali minyak,” ujar Rakhmad dalam keterangannya, Rabu (10/12/2025).
Optimalisasi Infrastruktur LNG dan CNG Jadi Fokus
PLN EPI juga melihat peluang besar dari optimalisasi infrastruktur gas yang sudah ada. Saat ini, perusahaan tengah membangun jaringan midstream LNG di berbagai klaster, mulai dari Nias, Sulawesi–Maluku, Nusa Tenggara, hingga Papua Utara. Infrastruktur ini dirancang untuk menekan biaya midstream dan membentuk virtual pipeline gas.
Pendekatan tersebut membuka peluang bagi industri dan sektor komersial di luar Jawa untuk mengakses gas dengan harga lebih kompetitif. PLN EPI pun membuka kemungkinan penggunaan bersama fasilitas LNG agar biaya dapat ditanggung bersama dan pasar gas baru bisa tercipta.
Selain LNG, kapasitas pabrik CNG milik PLN Group di Tambak Lorok, Gresik, Grati, dan Muara Tawar masih memiliki potensi idle lebih dari 60 BBTUD. Dengan dukungan fleksibilitas alokasi gas dari pemerintah, kapasitas ini dapat dimanfaatkan sektor industri dan komersial.
Bioenergi Tumbuh Pesat, Peluang di Luar PLN Masih Luas
Di luar energi fosil, PLN EPI mempercepat pengembangan energi bersih, khususnya bioenergi. Pada tahun ini, pasokan bioenergi hampir mencapai 2,6 juta ton dan ditargetkan mendekati 3,7 juta ton pada tahun depan. Angka ini mencerminkan pertumbuhan dua digit yang jauh melampaui energi primer lainnya.
Potensi bioenergi nasional diperkirakan mencapai 83 juta ton per tahun. Namun, utilisasi aktual baru sekitar 20 juta ton. Dari jumlah tersebut, kebutuhan PLN hanya sekitar 10 juta ton. Kondisi ini membuka ruang bisnis yang sangat besar bagi pasar non-PLN, termasuk peluang ekspor.
PLN EPI mengembangkan ekosistem biomassa bersama mitra strategis. Ekosistem ini mencakup fasilitas produksi, pengolahan, dan transportasi untuk mengagregasi pasokan biomassa. Pendekatan ini tidak hanya mendukung kebutuhan cofiring pembangkit, tetapi juga memperluas pasar bioenergi nasional.
Permintaan Listrik Nasional Dorong Investasi Jangka Panjang
Dari sisi permintaan, kebutuhan energi nasional diproyeksikan tumbuh sekitar 2 persen per tahun hingga 2035. Sektor ketenagalistrikan menjadi pendorong utama dengan proyeksi pertumbuhan rata-rata 5,3 persen per tahun. Faktor pendorongnya meliputi pertumbuhan pusat data, kawasan industri, serta adopsi kendaraan listrik.
Sejalan dengan tren tersebut, kapasitas tangki BBM milik PLN Group yang mencapai sekitar 800 ribu kiloliter saat ini baru terutilisasi sekitar 45 persen. Tingkat utilisasi ini diperkirakan terus menurun seiring program de-dieselisasi dan gasifikasi. Kondisi ini justru membuka peluang pemanfaatan bersama bagi kebutuhan industri dan perdagangan energi.
Kebutuhan Pendanaan dan Skema Kerja Sama Fleksibel
Untuk mendukung seluruh rencana pengembangan tersebut, PLN EPI memperkirakan kebutuhan pendanaan sekitar Rp16–18 triliun pada periode 2025–2030. Kebutuhan ini mencakup modal kerja dan belanja investasi di berbagai lini energi primer.
PLN EPI menawarkan beragam skema pendanaan yang fleksibel, mulai dari project financing, structured leasing, supplier financing, hingga trade financing. Pendekatan ini dirancang agar mitra bisnis dan institusi keuangan dapat terlibat sesuai profil risiko dan kebutuhan masing-masing.
“Kami siap berdiskusi dengan mitra bisnis potensial agar pasokan energi primer tidak hanya andal, tetapi juga kompetitif dan berkelanjutan,” kata Rakhmad.
Prospek Bisnis Energi Primer ke Depan
Dengan kebutuhan energi yang terus meningkat dan transisi menuju sistem energi yang lebih efisien, peluang bisnis di sektor energi primer masih terbuka lebar. Gas dan batu bara tetap memainkan peran penting dalam satu dekade mendatang, sementara bioenergi tumbuh sebagai alternatif yang menjanjikan.
Melalui pendekatan kolaboratif dan optimalisasi infrastruktur, PLN EPI menempatkan diri sebagai penghubung antara kebutuhan nasional dan peluang investasi. Bagi pelaku usaha, momentum ini menjadi kesempatan strategis untuk masuk ke rantai pasok energi primer yang kian relevan bagi ketahanan energi Indonesia.
Baca Juga : “Dominasi Bahan Bakar Fosil: Mengapa Dunia Masih Bergantung pada Sumber Energi Tak Terbarukan?“




