The Fed Kembali Pangkas Suku Bunga, Kini di Kisaran 3,5%–3,75%
Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve, kembali memangkas suku bunga acuan pada pekan lalu. Ini merupakan kali ketiga sepanjang tahun 2025, menandai kebijakan akomodatif The Fed di tengah perlambatan sektor ketenagakerjaan dan tingginya tekanan ekonomi domestik.
Dalam pernyataan resmi pada Rabu (17/12/2025) waktu AS, The Fed menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sehingga kini berada dalam kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen. Keputusan ini diambil untuk merespons sinyal melambatnya laju perekrutan tenaga kerja dan meningkatnya risiko ketidakpastian ekonomi ke depan.
Baca Juga : “Kapolri Teken Aturan Polisi Aktif Bisa Rangkap 17 Jabatan“
Fokus Utama: Redam Perlambatan Pasar Tenaga Kerja AS
Ketua The Fed, Jerome Powell, menjelaskan bahwa penurunan suku bunga merupakan bagian dari upaya untuk menjaga pasar tenaga kerja tetap kuat. Dalam konferensi pers di Washington DC, Powell menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan lapangan kerja.
“Kami mengambil langkah ini untuk memberikan stimulus yang dibutuhkan sektor tenaga kerja, tanpa mengabaikan komitmen kami terhadap pengendalian inflasi,” kata Powell.
Langkah ini diharapkan dapat memberi keringanan kepada masyarakat, khususnya peminjam kredit perumahan dan kartu kredit, yang hingga kini masih terbebani suku bunga tinggi pasca-pandemi.
Suku Bunga Masih Jauh dari Era Pandemi
Meskipun sudah turun tiga kali, suku bunga acuan The Fed masih tergolong tinggi dibandingkan era pandemi. Pada masa krisis COVID-19, The Fed sempat menurunkan suku bunga mendekati nol persen guna menstimulasi perekonomian. Kini, level suku bunga masih berada jauh di atas titik tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun arah kebijakan mulai melunak, The Fed masih berhati-hati dalam merespons tekanan ekonomi global dan domestik yang belum sepenuhnya stabil.
Ketidaksepakatan Muncul di Internal FOMC
Keputusan pemangkasan suku bunga kali ini tidak bulat. Dari 12 anggota Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang memiliki hak suara, tiga orang menyatakan ketidaksetujuan. Jumlah ini merupakan angka ketidaksepakatan tertinggi sejak 2019, mencerminkan perbedaan pendapat yang makin tajam di internal bank sentral.
Para penentang khawatir bahwa pemangkasan terlalu dini dapat memicu kembali tekanan inflasi yang sulit dikendalikan. Mereka lebih menyarankan pendekatan menunggu dan mengamati perkembangan ekonomi lebih lanjut sebelum mengambil langkah pelonggaran moneter.
Ketegangan Mandat Ganda: Inflasi vs Tenaga Kerja
The Fed saat ini menghadapi dilema besar: antara menjaga inflasi tetap terkendali dan memaksimalkan penciptaan lapangan kerja. Powell menyebut situasi ini sebagai masa yang penuh tantangan karena tidak ada jalan keluar yang bebas risiko.
“Jika kami mempertahankan suku bunga tinggi terlalu lama, pasar tenaga kerja bisa melemah lebih dalam. Tapi jika kami menurunkannya terlalu cepat, inflasi bisa kembali naik,” jelas Powell.
Instrumen utama The Fed, yaitu suku bunga, kini harus digunakan secara sangat hati-hati agar tidak menciptakan disrupsi baru di tengah ketidakpastian global dan domestik.
Inflasi dan Ketenagakerjaan Tunjukkan Sinyal Campuran
Data ekonomi AS belakangan menunjukkan sinyal yang beragam. Laporan pekerjaan untuk bulan September mencatat penambahan lapangan kerja yang masih solid meski tak secepat sebelumnya. Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen — tertinggi sejak Oktober 2021.
Di sisi lain, inflasi sempat menunjukkan penurunan namun kini kembali naik dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa ekonomi AS dapat masuk dalam fase stagflasi, yakni inflasi tinggi yang disertai perlambatan pertumbuhan.
Pasar Keuangan Antisipasi Pemangkasan Lebih Lanjut
Sebelum pengumuman resmi dari The Fed, pasar keuangan telah memperkirakan tingginya kemungkinan pemangkasan suku bunga. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, peluang penurunan suku bunga mencapai 90 persen — naik drastis dari 30 persen sebulan sebelumnya.
Sentimen ini didorong oleh pernyataan sejumlah pejabat The Fed seperti Presiden Federal Reserve New York John Williams dan Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly, yang sama-sama menyebut kemungkinan adanya pelonggaran kebijakan lebih lanjut jika kondisi ekonomi belum membaik.
Efek Langsung terhadap Konsumen dan Dunia Usaha
Penurunan suku bunga akan berdampak langsung pada penurunan bunga pinjaman, termasuk KPR dan kartu kredit. Ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi rumah tangga serta memberi napas bagi pelaku usaha yang selama ini menanggung beban bunga tinggi.
Namun demikian, efek stimulus ini tidak akan terasa instan. Diperlukan waktu dan kepercayaan pasar agar suku bunga yang lebih rendah benar-benar mengalirkan likuiditas dan mendorong perekrutan tenaga kerja.
Strategi The Fed di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global
Di tengah ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi Tiongkok, dan ketidakpastian rantai pasok global, The Fed perlu merancang strategi jangka menengah yang fleksibel. Powell menegaskan bahwa arah kebijakan The Fed akan sangat bergantung pada data terbaru, baik dari sisi tenaga kerja, inflasi, maupun sentimen bisnis.
“Kami akan terus memantau data secara cermat dan akan bertindak sesuai dengan kondisi yang ada,” ujar Powell, menekankan pendekatan berbasis data yang adaptif.
Simpulan: The Fed Bergerak Hati-Hati, Prioritaskan Stabilitas Jangka Panjang
Pemangkasan suku bunga sebanyak tiga kali sepanjang 2025 menunjukkan bahwa The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneter setelah periode pengetatan pasca-pandemi. Fokus utama kini bergeser untuk memulihkan sektor tenaga kerja yang mulai melemah.
Namun, dengan masih tingginya ketidakpastian dan adanya perbedaan pandangan internal, The Fed diperkirakan akan bergerak lebih hati-hati dalam kebijakan selanjutnya. Pasar, konsumen, dan pelaku usaha kini menantikan arah baru kebijakan moneter dengan harapan dapat memberi kejelasan dan kepastian di tengah masa transisi ekonomi global.
Baca Juga : “The Fed Turunkan Suku Bunga Acuan karena Inflasi Berlanjut“




