AS Ambil Alih Kepemimpinan G20 dari Afrika Selatan Mulai Desember 2025
Amerika Serikat (AS) secara resmi mengambil alih estafet Presidensi G20 2026 dari Afrika Selatan pada Senin, 1 Desember 2025. Momentum ini menandai transisi penting dalam kepemimpinan forum ekonomi terbesar dunia, yang sebelumnya dipimpin Afrika Selatan selama satu tahun penuh.
Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, AS mengumumkan arah baru Presidensi G20. Fokus utamanya adalah mengembalikan esensi awal G20 sebagai forum untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran global.
Menurut pernyataan resmi yang dirilis laman state.gov, Selasa (2/12/2025), Presiden Trump menekankan tiga agenda prioritas: meminimalkan beban regulasi, membuka akses energi yang aman dan terjangkau, serta mendorong teknologi dan inovasi strategis.
Baca Juga : “Timur Kapadze Gagal Latih Timnas, Gabung Klub Uzbekistan“
Tiga Agenda Prioritas AS Selama Memimpin Presidensi G20
Tiga prioritas yang disampaikan Presiden Trump menunjukkan orientasi ekonomi berbasis pasar dan inovasi teknologi. Berikut penjabaran masing-masing tema:
- Pengurangan Beban Regulasi
Trump berkomitmen menyederhanakan kebijakan ekonomi global. Ia menganggap hambatan regulasi sebagai penyebab lambatnya pertumbuhan investasi dan lapangan kerja. - Rantai Pasok Energi Aman dan Terjangkau
Dalam konteks ketahanan energi global, AS menargetkan kolaborasi antarnegara untuk memperkuat diversifikasi dan keamanan pasokan energi bersih, termasuk gas alam, nuklir, dan terbarukan. - Inovasi Teknologi dan Riset Unggulan
Presidensi AS juga akan fokus pada pengembangan teknologi strategis seperti kecerdasan buatan (AI), bioteknologi, dan infrastruktur digital lintas negara.
Ketiga agenda ini dinilai mencerminkan visi ekonomi Trump yang menekankan efisiensi pasar dan daya saing sektor industri berbasis inovasi.
Kota Miami Ditunjuk sebagai Tuan Rumah KTT G20 Tahun 2026
Sebagai bagian dari peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, Miami, Florida akan menjadi tuan rumah KTT Pemimpin G20 pada 2026. Logo resmi G20 Miami 2026 dan slogan “The Best Is Yet to Come” telah ditampilkan di halaman depan situs G20 versi AS.
Wajah Donald Trump mengenakan topi bertuliskan “USA” dengan pose mengepalkan tangan menjadi elemen visual dominan di situs tersebut. Hal ini menunjukkan simbolisasi personal dari Presidensi G20 yang sangat erat dengan figur Presiden Trump.
Pemilihan Miami juga mencerminkan citra kota global yang inklusif, modern, dan menjadi pusat perdagangan internasional, serta mewakili simbol kemajuan ekonomi AS.
Gesekan Diplomatik Mewarnai Transisi dari Afrika Selatan ke AS
Transisi dari Afrika Selatan ke Amerika Serikat tidak berlangsung sepenuhnya mulus. Presiden Trump secara terang-terangan memboikot KTT G20 di Johannesburg, Afrika Selatan, yang digelar pada 22–23 November 2025.
Boikot itu dikaitkan dengan tuduhan pelanggaran HAM terhadap warga kulit putih di Afrika Selatan. Selain itu, Trump mengkritik keras keputusan Afrika Selatan yang tidak menyerahkan simbolik presidensi G20 secara resmi kepada perwakilan AS.
Ketegangan ini berujung pada keputusan Trump untuk tidak mengundang Afrika Selatan ke KTT G20 di Miami. Keputusan itu memicu kontroversi karena dianggap melemahkan semangat multilateral dan inklusivitas G20 sebagai forum global.
Tinjauan Kembali KTT G20 Johannesburg 2025 dan Peran Indonesia
Afrika Selatan menutup masa kepemimpinannya sebagai Ketua G20 dengan menyelenggarakan KTT G20 di Johannesburg. Pertemuan ini menjadi puncak siklus pertama G20 sejak dibentuk pada 1999 pascakrisis finansial Asia.
Wakil Presiden Indonesia Gibran Rakabuming Raka didampingi Menko Perekonomian Airlangga Hartarto hadir mewakili Indonesia. Delegasi Indonesia fokus menyuarakan kepentingan global seperti pertumbuhan inklusif, transisi energi adil, dan ketahanan pangan.
Menurut Deputi Menko Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Investasi, Edi Prio Pambudi, dinamika negosiasi dalam forum tersebut cukup menantang. Mayoritas pertemuan tingkat Menteri hanya menghasilkan ringkasan ketua (Chair’s Summary) alih-alih deklarasi bersama karena perbedaan sikap di antara negara anggota.
Namun, Indonesia tetap aktif dalam menyampaikan intervensi pada sesi utama seperti:
- Sesi Pertumbuhan Inklusif
- Sesi Dunia yang Tangguh (A Resilient World)
- Sesi Masa Depan Adil untuk Semua (Fair and a Just Future)
Indonesia juga mempromosikan kebijakan nasional seperti Perizinan Berbasis Risiko sebagai contoh konkret penguatan iklim investasi di negara berkembang.
Konteks G20: Komposisi Anggota dan Fungsi Strategis Global
G20 saat ini terdiri dari 19 negara plus dua organisasi regional, yakni Uni Eropa dan Uni Afrika, yang baru menjadi anggota tetap sejak 2023. Forum ini mewakili lebih dari 85% PDB global, 75% perdagangan dunia, dan dua pertiga populasi dunia.
Dibentuk pascakrisis finansial 1997–1999, G20 berkembang menjadi platform utama pembahasan isu ekonomi makro, stabilitas sistem keuangan, pembangunan berkelanjutan, hingga perubahan iklim dan tata kelola teknologi global.
Tantangan Presidensi G20 di Tengah Polarisasi Global
Tantangan terbesar dalam Presidensi G20 AS adalah membangun kembali kepercayaan antarnegara yang sempat merenggang. Polarisasi geopolitik antara negara maju dan berkembang semakin tajam, terutama dalam isu utang negara miskin, subsidi energi, dan kontrol teknologi.
Langkah AS yang cenderung unilateral dapat menyulitkan tercapainya deklarasi bersama. Selain itu, absennya beberapa negara kunci dalam pertemuan sebelumnya menunjukkan fragmentasi dalam forum yang seharusnya menjadi simbol kerja sama global.
Namun, jika AS mampu mengarahkan agenda pada kerja sama konkret dan hasil nyata, Presidensi G20 Miami dapat menjadi momen pemulihan kredibilitas forum ini di mata dunia.
Kesimpulan: Harapan Baru atau Polarisasi Baru?
Pengambilalihan Presidensi G20 oleh Amerika Serikat membuka babak baru dalam dinamika forum ekonomi global. Di satu sisi, fokus Trump pada efisiensi, inovasi, dan kemandirian energi bisa menghadirkan solusi konkret bagi tantangan global.
Namun di sisi lain, pendekatan yang terlalu personal dan kurang inklusif berisiko memperlebar jurang diplomasi di antara anggota. Tahun 2026 akan menjadi ujian krusial bagi G20—apakah forum ini mampu menjaga relevansinya atau justru terjebak dalam polarisasi politik yang semakin dalam.
Penyelenggaraan KTT G20 di Miami nanti akan menjadi momen pembuktian, tidak hanya bagi AS, tetapi juga bagi seluruh anggota dalam merumuskan arah ekonomi dunia yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Baca Juga : “Boikot Trump Tak Berpengaruh, G20 Tetap Sahkan Deklarasi“




